Penggunaan bahasa sebagai
bahasa internasional biasanya didasarkan atas banyaknya jumlah penutur.
Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki jumlah penduduk terbanyak nomor
empat di dunia. Diperkirakan jumlahnya sudah melebihi 250 juta jiwa. Artinya,
jumlah penutur Bahasa Indonesia di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
juga sebanyak jumlah penduduknya. Selain sebagai bahasa resmi negara, Bahasa
Indonesia juga sebagai bahasa pemersatu. Hal ini dikarenakan, penduduk
Indonesia terdapat ratusan jenis bahasa daerah yang saling berbeda
perbendaharaan kata-katanya (vocabulary). Tingginya semangat ahli Bahasa Indonesia
dalam mengembangkan bahasa membuat Bahasa Indonesia terus mengalami
penyempurnaan tata bahasa (grammar) dan perbendaharaan kata (vocabulary).
Proses ini menyebabkan Bahasa Indonesia dapat digunakan untuk menjelaskan ilmu
sains dan sesuai dengan kebutuhan bisnis. Jadi, semua buku-buku asing seperti
buku matematika, fisika, kedokteran, ekonomi, dan sebagainya dapat diterjemahkan
secara menyeluruh.
Bila dikaitkan dengan
kondisi terkini, gejolak ekonomi dunia mendorong masyarakat dunia untuk
mempelajari Bahasa Indonesia. Sebab, disaat banyak negara di dunia mengalami
pertumbuhan ekonomi yang negatif, Indonesia masih menunjukan pertumbuhan
ekonomi yang positif dan cenderung stabil. Hal ini dapat memicu ketertarikan
investor asing untuk berinvestasi di Indonesia, menjadikan Indonesia sebagai
kekuatan ekonomi baru. Kesempatan kerja baru akan lebih banyak terbuka,
tentunya ini akan menarik bagi masyarakat dunia untuk mencari perkerjaan.
Akibatnya, masyarakat dunia mau tidak mau harus mempelajari Bahasa Indonesia.
Pertanyaannya adalah mengapa masyarakat asing itu harus mempelajari Bahasa
Indonesia? Masalahnya adalah kemampuan mayoritas Bangsa Indonesia dalam
menggunakan bahasa asing termasuk rendah. Masyarakat dunia yang ingin bekerja
atau berinvestasi bisa saja mengalami kendala bahasa jika tidak menguasai
Bahasa Indonesia. Oleh karena itu, pembelajaran Bahasa Indonesia di luar negeri
bisa saja akan terus meningkat. Hal ini dapat dibuktikan dengan pendirian
pusat-pusat Bahasa Indonesia dan banyak dibukanya jurusan Bahasa Indonesia di
universitas-universitas luar negeri. Kemudian, peran Indonesia yang besar di
dalam MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) turut memperbesar kemungkinan digunakannya
Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi ASEAN. Jika dikaitkan dengan konsumsi, masyarakat
Indonesia terkenal dengan budaya belanjanya di luar negeri, tidak perduli
apakah itu sedang berwisata atau sedang beribadah haji dan umroh. Maka, jangan
heran pedagang di Arab Saudi banyak yang bisa Bahasa Indonesia.
Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI) sangat kaya akan budaya dan keindahan alamnya. Hal
inilah yang membuat masyarakat dunia jatuh cinta dengan NKRI bahkan banyak yang
bersedia rela melepas kewarganegaraannya demi menjadi Warga Negara Indonesia
(WNI). Kekayaan budaya ini juga “memancing” guru-guru dan pelajar-pelajar asing
untuk mempelajari kebudayaan yang sangat kaya ini. Satu-satunya “gerbang” untuk
bisa mempelajarinya yaitu terlebih dahulu harus bisa Berbahasa Indonesia.
Jika dikaitkan dengan Ilmu dan Agama Islam, Indonesia adalah satu-satunya negara dengan jumlah penduduk Muslim terbanyak di dunia tetapi tidak menggunakan Syariat Islam sebagai dasar negara. Bahkan menjadi negara paling demokratis di Dunia Islam. Bahkan lebih demokratis dari Amerika Serikat, di mana mereka masih sangat sulit menerima perbedaan ras dan agama di negara mereka. Itu semua terjadi karena Amerika Serikat tidak menjadikan perbedaan ras dan agama sebagai dasar negara mereka. Penyatuan perbedaan-perbedaan ini sebenarnya telah terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW, di mana ketika mendirikan negara di Madinah, Beliau mempersatukan berbagai kalangan, suku, dan agama (Islam dan Yahudi). Karena kebaikan dan kemampuan “memanusiakan manusia” Nabi Muhammad SAW yang sangat tinggi membuat umat Yahudi di Jazirah Arab kembali menjadi Muslim dengan ikhlas, tanpa paksaan. Apa yang terjadi saat ini di Indonesia mirip dengan masa Nabi Muhammad SAW ketika masih hidup. Rakyat Indonesia dapat menjalankan kehidupannya dengan damai meskipun berbeda-beda. Namun terkadang masih ada saja “riak-riak” kecil dalam damainya kehidupan di Indonesia. Radikalisme mulai berkembang menjadi agama baru yang dianut sebagian kecil masyarakat. Beberapa tokoh-tokohnya sudah tereksekusi oleh polisi seperti Noordin M. Top, Dr. Azahari (saya sebut saja namanya karena bukan Orang Indonesia) dan beberapa tokoh dalam kasus kerusuhan Poso tahun 2000. Keadaan masyarakat yang damai ini menjadi nilai tambah bagi pengajar-pengajar Ilmu Agama Islam di Indonesia bahwa mereka benar-benar menjalankan dan memberi contoh (seperti yang sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW) kepada murid-murid atau santri-santrinya. Mungkin Indonesia satu-satunya negara yang umat Islamnya banyak mengkaji Ilmu Tauhid, Hakikat, hingga Ma’rifah. Hal inilah yang menjadi daya tarik bagi pelajar-pelajar Muslim di seluruh dunia. Bukan tidak mungkin Indonesia menjadi pusat kajian Islam terbesar di dunia. Tidak menutup kemungkinan juga ahli-ahli sosial dan politik dari barat tertarik untuk mengkaji demokrasi di Indonesia. Pada akhirnya, meraka semua akan belajar Bahasa Indonesia.

0 komentar:
Posting Komentar