Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan

Pengalaman Disumpahi Mati Dibunuh

Posted by Dana On 13:17 No comments

Bulan Ramadan adalah bulan penuh berkah. Bulan ini menjadi bulan paling dinantikan oleh setiap muslim di seluruh dunia dan setiap muslim akan diuji kesabarannya. Pada bulan ini saya pernah mendapat ujian kesabaran. Saya disumpahi mati dibunuh.

Kejadian ini bertepatan dengan kegiatan tugas kampus yang dikerjakan secara berkelompok. Dalam tugas kelompok, pasti silang pendapat biasa terjadi. Namun akan menjadi masalah jika ada anggota yang memiliki karakter arogan dan mudah marah. Sejak awal, sebenarnya saya sudah mengetahui ada anggota yang memiliki karakter buruk ini. Oleh karena itu, saya cenderung menjaga jarak agar tidak terjadi gesekan-gesekan ego. Usaha tersebut ternyata tidak berhasil. Seorang anggota mengkritik hasil pekerjaan saya. Mungkin karena kelelahan dan perut lapar, saya lupa menginjak rem ego saya. Saya membuat pembelaan diri. Pembelaan diri tersebut secara tidak sengaja menyenggol anggota lain yang mempunyai karakter arogan dan mudah marah. Akibatnya, saya dimaki-maki. Satu-satunya kalimat sakti yang masih saya ingat persis adalah saya disumpahi mati dibunuh. Saya memilih menginjak rem ego saya dari pada harus menambah masalah. Saya lebih memilih mengutamakan ibadah puasa saya. Kondisi ini dianalogikan seperti pelanggar rambu lalu-lintas yang ditilang oknum polisi. Ketika si pelanggar ditawarkan untuk sidang di jalan oleh oknum polisi tersebut, si pelanggar lebih memilih sidang resmi dan berusaha untuk tidak menambah kesalahan dengan mengikuti kemauan oknum polisi itu.

Setelah memaki-maki saya, dia kembali memanggil dan mencoba menasehati saya. Sambil mendengarkan saya berpikir, kenapa orang yang sulit mengendalikan diri justru malah menasehati saya, lebih parah lagi dia bahkan berani mengkritik orang tua saya yang dia melihat mereka saja belum pernah. Saya hanya mendengarkan tanpa mengomentari. Tugas kelompok selesai dan kami kembali ke aktivitas masing-masing. Tidak lama setelah kejadian itu, saya mendapat kabar bahwa anggota kelompok yang arogan itu meninggal karena kecelakaan, terjatuh dari motor. Dari kejadian ini saya mendapatkan pelajaran bahwa ketika kita menyumpahi atau mendoakan keburukan, kemungkinan sumpah serapah dan doa-doa buruk tersebut bisa kembali mengenai diri sendiri.

Pengalaman Tinggal di Gotham City

Posted by Dana On 07:22 No comments

Berawal dari sekedar membaca komentar-komentar di Forum Kaskus, saya menemukan istilah menarik dari forum tersebut yaitu Gotham City. Gotham City adalah sebuah kota fiktif dari cerita komik Batman, suatu kota tempat berkumpulnya penjahat-penjahat dari kalangan ekonomi bawah. Namun, pada komentar-komentar tersebut sebenarnya ditujukan untuk menyindir salah satu kota terbesar di Indonesia yaitu Kota Medan. Apabila saya mengingat-ingat masa lalu saya, tampaknya istilah tersebut tidak salah. Kota Medan memang seperti Gotham City.

Suatu hari saya mendapatkan tawaran pekerjaan untuk mengurus logistik sebuah perusahaan di Kota Medan. Tawaran yang sangat menarik ini tidak saya sia-siakan, berhubung saya juga membutuhkan pengalaman kerja. Orang tua saya bukan keturunan asli dari Sumatera Utara tetapi dilahirkan di Kota Medan. Kakek dan nenek saya berasal dari Jawa Tengah dan menghabiskan sisa-sisa hidupnya di Kota Medan. Orang tua saya juga kurang terbuka tentang tempat kelahirannya. Hal inilah yang membuat saya tertarik untuk pergi mencari tahu sendiri. Kemudian saya berangkat menggunakan maskapai penerbangan termurah merek singa.

Setelah sampai di Bandara Kualanamu, saya langsung menuju ke lokasi kerja untuk mempelajari apa saja yang harus dikerjakan agar tidak kaget dan bingung. Sampai diproses ini belum ada gejala-gejala aneh. Saya masih merasa seperti di Pulau Jawa. Masyarakatnya ramah dan tidak sulit untuk diajak berbincang-bincang. Makanannya pun termasuk murah-murah, hanya saja rata-rata terlalu pedas untuk lidah Jawa seperti saya. Namun semuanya berubah setelah sekelompok orang mengaku atas nama ormas berinisial PP datang menghampiri aktivitas penurunan barang di truk kami. Mereka bertanya-tanya (kepo) sedang membawa apa dan berapa harga per unitnya. Kemudian mereka melobi saya bahwa saya harus membayar sejumlah uang. Mereka bilang bahwa hal ini sudah biasa di Kota Medan. Dalam hati saya, mereka ini kelompok apa? Seumur hidup saya belum pernah mengalami jika menurunkan barang dari truk harus membayar. Di kota kelahiran saya memang ada ormas PP tetapi tidak sampai mengganggu lingkungan saya tinggal dan tidak mengganggu aktivitas bisnis menengah ke bawah. Supir truk yang warga lokal memberi tahu saya bahwa kondisinya memang seperti ini, orang pindah rumah pun akan diminta sejumlah uang. Jika tidak memberi, mereka akan melempari kaca rumah pada malam harinya. Saya berpikir, super sekali orang-orang ini. Mungkin penyebabnya ada pada budaya malas kerja yang telah berakar dan diwariskan ke anak cucu sehingga mereka terbiasa menggunakan kelompoknya untuk menekan orang lain. Begal motor pun bisa leluasa melancarkan aksinya pada malam hari. Masyarakat menjadi takut apabila keluar pada tengah malam. Aparat keamanan di Kota Medan memang sangat super sekali.

Sampai hari ini saya masih merasa sedikit jengkel bila ingat dengan ulah mereka. Saya hanya berharap ada superhero seperti Batman yang dapat mengawasi dan menekan aktivitas merugikan mereka. Saya sangat mendukung apabila para mantan anggota Kopassus yang terlibat pada kasus Cebongan menjadi aktivis penentang aktivitas premanisme.

Ikan Aligator Spatula

Posted by Dana On 19:29 No comments

Terkadang setiap orang memiliki hobi. Bermacam-macam hobi bisa kita temui di sekitar kita, ada yang hobi otomotif, olah raga, sampai memelihara hewan. Saya sendiri juga punya hobi, yaitu memelihara ikan. Beberapa jenis ikan pernah saya pelihara, mulai dari ikan mas, ikan sapu-sapu, ikan koki, ikan lele, ikan cupang, ikan louhan, dan lainnya. Semenjak mulai kuliah, hobi ini sempat saya hentikan. Belakangan ini, hobi saya mulai muncul lagi. Setengah tahun yang lalu saya memelihara ikan cupang hias tetapi akhirnya semua mati karena saya tinggal pergi selama sebulan.

Sempat terlintas di dalam pikiran untuk memelihara ikan arwana. Namun niat ini saya urungkan karena takut tidak terurus. Akhirnya pilihan jatuh pada ikan aligator spatula (atractosteus spatula). Ikan ini memiliki daya tahan yang cukup baik, tidak mudah stres, dan memliki nafsu makan besar. Makanannya sederhana, cukup memasukkan beberapa ikan kecil. Jika lapar, ikan ini akan memakan ikan-ikan tersebut dan jika tidak, ikan-ikan kecil ini akan dibiarkan sampai ikan yang termasuk familia lepisosteidae ini menjadi lapar kembali. Oleh sebab itu, saya jadi tidak khawatir lupa memberi makan.

Bagi yang memelihara ikan ini harap berhati-hati, jangan sampai ikan ini lepas ke perairan bebas. Jika ikan ini lepas dan berkembang biak di perairan bebas, akan mengancam populasi ikan-ikan asli. Jangan sampai ikan asli Indonesia mengalami kepunahan seperti yang terjadi pada ikan moncong bebek (xenopoecilus poptal) di Danau Poso dan ikan sarasinorum di Danau Lindu karena berkembangnya populasi ikan mujair (berasal dari Mozambik).

Ikhlas?

Posted by Dana On 20:18 No comments

“Saya ikhlas kok melakukannya”. Mungkin kalimat ini tidak asing di telinga kita. Apa sih yang dimaksud dengan ikhlas? Perbuatan dilakukan dengan ikhlas apabila orang yang melakukannya tidak menyertakan kepentingan pribadi atau imbalan duniawi dalam bentuk apa pun dari apa yang ia lakukan. Dengan kata lain niat perbuatannya tersebut hanya satu, yaitu bagaimana agar apa yang dilakukannya diterima oleh Allah SWT.
Apa pun yang dilakukan dan niatnya hanya kepada Allah SWT, inilah wujud dari ikhlas. Seseorang yang tulus tidak perlu merekayasa kata-katanya agar tampak memukau, tetapi ia akan mengupayakan agar setiap kata yang diucapkan benar-benar menjadi kata-kata yang disukai oleh Allah SWT. Artinya bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Apa yang kita dapat dari perbuatan yang dilakukan dengan ikhlas? Perbuatan yang dilakukan dengan ikhlas akan menimbulkan ketentraman jiwa dan ketenangan batin. Alasannya, orang yang ikhlas tidak diperbudak oleh penantian untuk mendapatkan pujian, penghargaan, apalagi sampai mengharapkan imbalan. Kita tahu bahwa penantian adalah suatu hal yang tidak menyenangkan. Begitu pula menunggu diberi pujian, juga menjadi sesuatu yang tidak nyaman. Lebih tidak enak lagi kalau yang kita lakukan ternyata tidak dipuji, atau malah dikritik, pasti kita akan lebih kecewa lagi.

Bagi seseorang yang ikhlas, ia tidak akan pernah mengharapkan apa pun dari siapa pun karena kenikmatan baginya bukan dari mendapatkan, tetapi dari apa yang bisa ia persembahkan. Jadi, kalau anda melakukan sesuatu dan di dalam hati mengharapkan pujian, tidak usah heran kalau nanti yang datang justru malah cibiran. Tidak usah heran pula kalau kita tidak ikhlas akan banyak kecewa dalam hidup ini. Orang yang tidak ikhlas akan mudah tersinggung dan kecewa karena ia memang terlalu banyak berharap. Biasakanlah kalau berbuat kebaikan sekecil apa pun, kita lupakan perbuatan itu.

Lalu, dimanakah letak kekuatan hamba-hamba Allah SWT yang ikhlas? Seorang hamba yang ikhlas akan memiliki kekuatan ruhiyah yang besar. Ia seakan-akan menjadi pancaran energi yang melimpah. Keikhlasan seorang hamba Allah SWT dapat dilihat pula dari raut muka, tutur kata, serta gerak-gerik perilakunya. Kita akan merasa aman bergaul dengan orang yang ikhlas. Kita tidak curiga akan ditipu dan kita tidak curiga akan dikecoh olehnya. Ia benar-benar bersih dari perbuatan rekayasa. Setiap tutur kata dan perilakunya tidak ada yang tersembunyi. Semua itu ia lakukan tanpa mengharap apa pun dari orang yang dihadapinya. Yang ia harapkan hanyalah memberikan yang terbaik untuk siapa pun.

Sungguh sangat nikmat bila dapat bergaul dengan seorang hamba yang ikhlas. Setiap kata-katanya tidak akan bagai pisau yang akan mengiris hati. Perilakunya pun tidak akan menyudutkan dan menyempitkan diri. Tidak usah heran kalau orang ikhlas itu punya daya gugah dan daya ubah yang begitu dahsyat.

Apa yang diucapkan oleh kalimat pertama di atas bukanlah cerminan dari perbuatan yang ikhlas. Ikhlas adalah pekerjaan hati. Artinya, perbuatan yang dilakukan dengan ikhlas hanya dapat dirasakan oleh hati.  Cukuplah hati ini dan Allah SWT yang mengetahuinya, tidak perlu kita mengumbar kata "ikhlas". Dengan begitu,  mudah-mudahan setiap amal dan perbuatan kita dapat diterima oleh Allah SWT dan tidak berakhir dengan kesia-siaan.

Mengglobalkan Bahasa Indonesia

Posted by Dana On 09:09 No comments

Bahasa merupakan salah satu alat pemersatu manusia lewat komunikasi. Tanpa ada komunikasi, jangan harap terjadi suatu masyarakat. Sebab, esensi dari masyarakat adalah orang-orang yang hidup, berteman, dan bekerja sama. Itu semua baru bisa terjadi kalau ada interaksi lewat komunikasi dengan menggunakan bahasa tertentu. Kita beruntung karena sejak Sumpah Pemuda tahun 1928, bahasa Indonesia telah disahkan sebagai bahasa nasional. Dampak langsung yang dinikmati oleh orang-orang pemasaran adalah iklan hanya dibuat dalam satu bahasa. Di Malaysia, iklan harus dibuat dalam bahasa Melayu, Inggris, Cina, dan India kalau mau mencapai semua golongan masyarakat. Mengapa? Karena keempat bahasa itu memang digunakan sehari-hari.

Di Kanada, orang-orang di Quebec bahkan selalu memisahkan diri. Mereka tidak mau menggunakan bahasa Inggris. Sehari-hari mereka hanya mau memakai bahasa Perancis, suatu bahasa yang di abad lalu merupakan simbol kebudayaan Eropa yang tinggi.

Uni Eropa tidak pernah bener-benar menjadi suatu negara serikat karena setiap negara punya kebanggaan akan budaya sendiri. Hal tersebut antara lain dapat terlihat pada tujuh bahasa resmi yang harus digunakan pada setiap dokumen resmi. Tidak ada yang mau mengalah.

Amerika Serikat dan Jepang lebih beruntung sebagai negara adidaya dalam bidang ekonomi. Keduanya solid dalam bahasa yang digunakan di negara masing-masing, yaitu bahasa Inggris dan Jepang. Dalam era globalisasi di mana arus informasi tak tertahan lagi, maka semua bahasa ini bertemu. Bahasa Inggris banyak digunakan orang, bukan hanya karena Amerika Serikat adalah satu-satunya negara adidaya, juga bukan karena kekuatan ekonominya yang luar biasa tetapi karena banyak ilmu pengetahuan berasal dari sana.

Buku The Art of War yang ditulis Sun Tzu pada 400 SM baru dimengerti orang barat 300 tahun setelah orang jepang membacanya. Mengapa? Sun Tzu menulisnya dalam huruf kanji yang dimengerti orang Jepang. Tiga ratus tahun kemudian baru buku itu diterjemahkan dalam bahasa Inggris.

Nasionalisme di dalam era globalisasi tidak boleh hanya ditunjang oleh suatu retorika saja. Kita harus mempertahankan bahkan memperluas penggunaan bahasa nasional kita dengan cara yang smart, bukan cara “sempit”. Kalau mau lebih cepat mengajarkan bahasa Indonesia kepada orang asing yang datang atau tinggal di sini, kita justru harus mempertahankan nama Inggris yang sudah ada pada semua gedung. Bahkan yang belum ada bahasa Inggrisnya bila perlu ditambahkan tetapi diberikan nama Indonesia yang ditulis lebih besar sebagai bahasa resmi. Jadi, kalau ada sebuah gedung namanya Gedung Lippo lantas ada terjemahannya Lippo Building, orang asing justru bisa belajar bahasa Indonesia dengan lebih mudah. Oh, gedung itu artinya building! Inilah cara praktis mengglobalkan bahasa Indonesia.

Sumber:
Kartajaya, Hermawan. 2006. Marketing Klasik Indonesia. Bandung: Penerbit Mizan.

Biografi Jenderal Besar Soedirman

Posted by Dana On 05:31 No comments

Jenderal Besar Soedirman merupakan pahlawan yang pernah merebut kemerdekaan Republik Indonesia dari tangan pejajahan. Saat usianya masih yang masih relatif muda yaitu saat berumur 31 tahun sudah menjadi seorang jenderal. Walaupun menderita sakit paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya melawan Belanda. Soedirman merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan bagi Bangsa Indonesia. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat dan bangsa di atas kepentingan pribadinya. Ia selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara. Hal ini boleh dilihat ketika Agresi Militer II Belanda. Ia yang dalam keadaan lemah karena sakit tetap bertekad ikut terjun bergerilya walaupun harus ditandu. Dalam keadaan sakit, ia memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Itulah sebabnya kenapa ia disebutkan merupakan salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh revolusi negeri ini.


Kata-kata Mutiara Soedirman (Yogyakarta 12 November 1945)


Tentara hanya memiliki kewajiban satu, ialah mempertahankan kedaulatan negara dan menjaga keselamatannya, sudah cukup kalau tentara teguh memegang kewajiban ini, lagi pula sebagai tentara, disiplin harus dipegang teguh. Tunduk kepada pimpinan atasannya dengan ikhlas mengerjakan kewajibannya,


Soedirman Kecil

Soedirman dilahirkan pada tanggal 24 Januari 1916 di Desa Bodaskarangjati, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Ayahnya bernama Karsid Kartawiradji, seorang mandor tebu pada pabrik gula di Purwokerto. Ibunya bernama Siyem, berasal dari Rawalo, Purwokerto. Mereka adalah keluarga petani. Sejak masih bayi, Soedirman telah diangkat sebagai anak oleh R.Tjokrosunaryo, Asisten Wedana (Camat) di Rembang, Distrik Cahyana, Kabupaten Purbalingga, yang menikah dengan bibi Soedirman. Setelah pensiun, keluarga Tjokrosunaryo kemudian menetap di Cilacap. Dalam usia tujuh tahun Soedirman memasuki Hollandsche Inlandsche School (HIS) setingkat Sekolah Dasar di Cilacap. Dalam kehidupan yang sederhana, R. Tjokrosunaryo mendidik Soedirman dengan penuh disiplin. Soedirman dididik cara-cara menepati waktu dan belajar menggunakan uang saku sebaik-baiknya. Ia harus bisa membagi waktu antara belajar, bermain, dan mengaji. Soedirman juga dididik dalam hal sopan santun priyayi yang tradisional oleh Ibu Tjokrosunaryo.


Soedirman Remaja

Pada tahun 1930, Soedirman tamat dari HIS. Pada tahun 1932 Soedirman memasuki Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs (MULO) setingkat SLTP. Setahun kemudian, ia pindah ke Perguruan Parama Wiworo Tomo dan tamat pada tahun 1935. Di sekolah, Soedirman termasuk murid yang cerdas dan rajin mengikuti pelajaran yang diajarkan gurunya. Soedirman menunjukkan minatnya yang besar pada pelajaran bahasa Inggris, ilmu tata negara, sejarah dunia, sejarah kebangsaan, dan agama Islam. Demikian tekunnya Soedirman mempelajari agama Islam sehingga oleh teman-temannya diberi julukan “kaji”.


Soedirman Menjadi Pandu

Ia juga aktif di organisasi kepanduan (sekarang Pramuka) Hizbul Wathon (HW) yang diasuh oleh Muhammadiyah. Melalui kegiatan kepanduan ini, bakat-bakat kepemimpinan Soedirman mulai kelihatan. Ia ternyata seorang pandu yang berdisiplin, militan, dan bertanggung jawab. Hal ini terlihat ketika Hizbul Wathon mengadakan jambore di lereng Gunung Slamet yang terkenal berhawa dingin. Pada malam hari udara sedemikian dinginnya, sehingga anak-anak HW tidak tahan tinggal di kemah. Mereka pergi ke rumah penduduk yang ada di dekat tempat tersebut, hanya Soedirman sendiri yang tetap tinggal di kemahnya.


Soedirman Guru Sekolah, Ketua Koperasi, Anggota Legislatif
Setelah lulus dari Parama Wiworo Tomo, ia menjadi guru di HIS Muhammadiyah. sebagai seorang guru, Soedirman tetap aktif di Hizbul Wathon. Pada tahun 1936, Soedirman memasuki hidup baru. Ia menikah dengan Siti Alfiah, puteri Bapak Sastroatmodjo, dari Plasen, Cilacap yang sudah dikenalnya sewaktu bersekolah di Parama Wiworo Tomo. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai 7 orang anak. Pada awal pendudukan Jepang, Sekolah Muhammadiyah tempat ia mengajar ditutup. Berkat perjuangan Soedirman sekolah tersebut akhirnya boleh dibuka kembali. Kemudian Soedirman bersama beberapa orang temannya mendirikan koperasi dagang yang diberi nama Perbi dan langsung diketuainya sendiri. Dengan berdirinya Perbi, kemudian di Cilacap berdiri beberapa koperasi yang mengakibatkan terjadi persaingan kurang sehat. Melihat gelagat ini, Soedirman berusaha mempersatukannya, dan akhirnya berdirilah Persatuan koperasi Indonesia Wijayakusuma. Kondisi rakyat pada waktu itu sulit mencari bahan makanan, sehingga keadaan ini membangkitkan semangat Soedirman untuk aktif membina Badan Pengurus Makanan Rakyat (BPMR), suatu badan yang dikelola oleh masyarakat sendiri, bukan badan buatan Pemerintah Jepang. Badan ini bergerak dibidang pengumpulan dan distribusi bahan makanan untuk menghindarkan rakyat Cilacap dari bahaya kelaparan. Ia termasuk tokoh masyarakat karena kecakapan memimpin organisasi dan kejujurannya. Pada tahun 1943, Pemerintah Jepang mengangkat Soedirman menjadi anggota Syu Songikai (semacam dewan pertimbangan karesidenan) Banyumas.


Soedirman Memasuki Dunia Militer
Pada pertengahan tahun 1943, tentara Jepang mulai terdesak oleh Sekutu. Pada bulan Oktober 1943, Pemerintah Pendudukan Jepang mengumumkan pembentukan Tentara Pembela Tanah Air (Peta). Soedirman sebagai tokoh masyarakat ditunjuk untuk mengikuti latihan Peta angkatan kedua di Bogor. Selesai pendidikan, ia diangkat menjadi Daidanco (komandan batalyon) berkedudukan di Kroya, Banyumas. Di sanalah Soedirman memulai karirnya sebagai seorang prajurit. Sebagai komandan, Soedirman sangat dicintai oleh bawahannya, karena ia sangat memperhatikan kesejahteraan mereka. Ia tidak takut menentang perlakuan buruk opsir-opsir Jepang yang menjadi pelatih dan pengawas batalyonnya. Sesudah terjadi pemberontakan Tentara Peta Blitar pada bulan Pebruari 1945, Jepang mengadakan observasi terhadap para perwira Peta. Mereka yang bersikap menawan (recalcitrant), dikategorikan berbahaya. Pada bulan Juli 1945, Soedirman dan beberapa orang perwira Peta lainnya yang termasuk kategori “berbahaya” dipanggil ke Bogor dengan alasan akan mendapat latihan lanjutan. Hanya kemudian ada kesan bahwa Jepang berniat untuk menawan mereka. Sekalipun mereka sudah berada di Bogor “Pelatihan Lanjutan” dibatalkan, karena tunggal 14 Agustus 1945 Jepang sudah menyerah kepada sekutu. Sesudah itu Soedirman dan kawan-kawannya kembali lagi ke dai dan masing-masing. Pada saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, Soedirman berada di Kroya. Esok harinya tanggal 18 Agustus 1945. Jepang membubarkan Peta dan senjata mereka dilucuti, selanjutnya mereka disuruh pulang ke kampung halaman masing-masing. Setelah pengumuman pembentukan BKR, Soedirman berusaha mengumpulkan mereka kembali dan menghimpun kekuatan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Bersama Residen Banyumas Mr. Iskaq Tjokroadisurjo dan beberapa tokoh lainnya, Soedirman melakukan perebutan kekuasaan dari tangan Jepang secara damai. Komandan Batalyon Tentara Jepang Mayor Yuda menyerahkan senjata cukup banyak. Karena itu BKR Banyumas merupakan kesatuan yang memiliki senjata terlengkap.


Soedirman Memimpin Pertempuran Ambarawa
Ketika Brigade Bethel mendarat di Semarang pada tanggal 19 Oktober 1945, selanjutnya pasukan menuju Magelang untuk membebaskan para tawanan tentara Sekutu. Di Magelang tentara Sekutu bertindak sebagai penguasa yang mencoba melucuti TKR dan membuat kekacauan. TKR, Resimen Magelang pimpinan M. Sarbini membalas tindakan tersebut dengan mengepung tentara sekutu dari segala penjuru. Namun mereka selamat dari kehancuran berkat campur tangan Presiden Soekarno yang berhasil menenangkan suasana. Kemudian pasukan Sekutu secara diam-diam meninggalkan kota Magelang menuju Ambarawa. Akan tetapi Batalyon A. Yani, Suryosumpeno, dan Kusen mengejar pasukan Sekutu tersebut. Satu batalyon dari Divisi Purwokerto, di bawah Iman Adrongi menghadang gerakan Sekutu di Pingit. Sejak itu pertempuran semakin meluas. Bala bantuan datang dari Banyumas, Salatiga, Surakarta, dan Yogyakarta. Dalam salah satu pertempuran, Letnan Kolonel Isdiman Suryokusumo, Komandan Resimen TKR Banyumas yang merupakan tangan kanan Panglima Besar gugur. Sejak gugurnya Letnan Kolonel Isdiman, Komandan Divisi V, Kolonel Soedirman merasa kehilangan perwira terbaik dan ia langsung turun ke lapangan untuk memimpin pertempuran. Pada tanggal 11 Desember 1945, Kolonel Soedirman mengadakan rapat dengan para Komandan Sektor TKR dan Laskar. Dalam rapat tersebut Kolonel Soedirman menjelaskan bahwa posisi lawan sudah makin terjepit sehingga merupakan peluang yang tepat untuk menghancurkan lawan secepatnya dari Ambarawa. Tepat pukul 04.30 pagi tanggal 12 Desember 1945 serangan mulai dilancarkan. Pertempuran segera berkobar di sekitar Ambarawa. Satu setengah jam kemudian, jalan yang menghubungkan Ambarawa dengan Semarang sudah dikuasai oleh kesatuan-kesatuan TKR. Pertempuran Ambarawa berlangsung sengit, Kolonel Soedirman langsung memimpin pasukannya yang menggunakan taktik “Supit Udang” atau pengepungan rangkap sehingga musuh benar-benar terkurung. Suplai dan komunikasi dengan pasukan induknya terputus sama sekali. Setelah bertempur selama 4 hari 4 malam, akhirnya musuh mundur ke Semarang. Benteng pertahanan yang tangguh jatuh ke tangan pasukan kita. Tanggal 15 Desember 1945, pertempuran berakhir. Kemenangan gemilang di medan Ambarawa telah membuktikan kemampuan Soedirman sebagai seorang panglima perang yang tangguh. Episode gemilang ini telah diabadikan dalam bentuk Monumen Palagan Ambarawa dan diperingati setiap tahun oleh TNI AD sebaaai Hari Infanteri atau Hari Juana Kartika.


Pemilihan Unik Panglima Besar Jenderal Soedirman
Sewaktu Tentara Sekutu, yang diwakili oleh Inggris dengan dibuntuti oleh Belanda dibelakangnya mendarat, dan mereka menuntut senjata Jepang kembali dari tangan kita, maka meletuslah dimana-mana pertempuran-pertempuran baru. Dulu dengan Jepang, kini dengan Sekutu. Kita tidak sudi menyerahkan kembali senjata yang kita rebut itu. Pertempuran-pertempuran baru tidak hanya terjadi di Jakarta dan sekitarnya, tetapi juga di Semarang, dan yang terbesar serta paling lama adalah di kota Surabaya, dari 28 hingga 30 Oktober 1945, dan dari 10 hingga 30 Nopember 1945. Soedirman yang pada waktu itu diangkat oleh Pemerintah sebagai Panglima Divisi Sunan Gunung Jati atau Divisi V, dan yang bertanggung jawab untuk daerah Banyumas dan Kedu, menghadapi juga serangan-serangan Inggris yang datang dari jurusan Semarang menuju ke Ambarawa dan Banyubiru. Berkat semangat kepemimpinan Soedirman tentara Inggris dapat dienyahkan. Dalam suasana demikian itulah Kolonel Soedirman dipilih sebagai Panglima Besar. Yang memilih adalah para Panglima Divisi dan Komandan Resimen yang berkumpul di Yogyakarta pada tanggal 12 Nopember 1945. Pangkatnya sejak itu adalah Jenderal. Dalam pemilihan itu beliau mengalahkan colon-colon lain. Ditinjau dari pendidikan kemiliteran, maka calon-calon lain itu jauh lebih tinggi dari Jenderal Soedirman. Pemilihan yang unik ini mencerminkan Zeitgeist atau “Semangat Zaman” waktu itu. Yaitu semangat revolusi di mana-mana. Rakyat kita seakan-akan terserang demam. Demam revolusi. Semangat perjuangan revolusioner di mana-mana berkobar. Dikobarkan dalam rapat-rapat umum, yang diselenggarakan oleh kaum politisi kita dari zaman Pergerakan, dan oleh alat-alat Pemerintahan yang baru dibentuk, dan karenanya kurang sempurna. Di mana-mana rakyat kita giat merombak sistem kolonialisme Hindia-Belanda dan sistem militerisme Jepang. Rakyat muak terhadap kedua sistem kolonialisme dan militerisme masa Iampau itu. Rakyat tidak sabar lagi, dan di dalam usaha merombak sistem lama itu, tidak jarang timbul gejolak kekacauan. Serobot-menyerobot, daulat mendaulat dan malahan culik-menculik adakalanya terjadi. Siapa yang menjalani sendiri situasi pada waktu itu, benar-benar merasa adanya revolusi, adanya perubahan cepat kilat yang sedang berlaku. Terutama di kalangan pemuda kita. Seringkali perubahan cepat itu tanpa aturan “normal”. Kadangkadang malahan “anarchistis” sama sekali. Irosionalitas dan emosionalitas seringkali mengatasi rasionalitas dan pikiran dingin. Memang itulah revolusi! Eine Umwertung aller Werte. Penjungkirbalikkan segala macam nilai. Suatu “razende inspirasi van de historie”. Suatu “ilham yang memandang daripada sejarah”. Dan “ilham sejarah” itu adalah “titik temu dari segala apa yang merupakan kesadaran bangsa dengan apa yang hidup di bawah kesadaran sejarah bangsa itu. “He ontmoetingspunt, van het vewuste en het onderbewuste in de geschiedenis!” Pilihan atas Panglima Besar Soedirman jatuh dalam situasi demikian. Banyak emosi di bawah sadar ikut menentukan pilihan itu. Banyak pikiran rasionalistis tidak berkenan masuk dalam pertimbangan pilihan tersebut. Memang revolusi mempunyai nilai-nilai sendiri. Apalagi revolusi yang berwatak kerakyatan, seperti revolusi kita dulu itu. Setuju atau tidak setuju, realitanya ialah bahwa nilai-nilai emosi magis, naluri kharismatis dan getaran-mistis ikut menentukan jalannya revolusi kita pada waktu itu. Juga dalam pemilihan Panglima Besar RI untuk pertama kalinya, nilai-nilai tersebut ikut menentukan. Sudah barang tentu nilai-nilai rasional dan pikiran dingin hidup juga pada waktu itu. Namun yang lebih menonjol dan lebih kuat adalah nilai-nilai emosi magis, naluri kharismatik dan getaran mistis tersebut di atas. Dan itulah yang kemudian bermuara ke dalam keputusan mengangkat Soedirman sebagai Panglima Besar. Yang terpilih bukan calon yang memiliki kadar rasionalitas dan keterampilan militer teknis yang tinggi, produk dari didikan Barat di kota-kota besar, melainkan yang terpilih adalah seorang anak rakyat, dibesarkan di desa, yang kemudian oleh gelombang revolusi terlempar ke atas, dan merupakan tonggak kepercayaan mayoritas para panglima divisi dan para komandan resimen yang hadir pada waktu itu. Susunan divisi serta resimen tentara kita pada waktu itu jauh dari sempurna. Markas-markas pun belum menentu, dan sering kali harus berpindah-pindah. Para Panglima Divisi serta para komandan resimen pun tidak semuanya memiliki kepandaian kemiliteran-teknis yang sempurna, seperti menurut ukuran-ukuran Barat. Kepandaian kemiliterannya boleh diragukan, namun yang tidak dapat diragukan adalah semangat dan jiwa perjuangannya membela Proklamasi, melawan kembalinya kolonialisme. Andai kata pilihan jabatan Panglima Besar pada waktu itu diserahkan kepada Pemerintah Pusat, maka besar sekali kemungkinan bahwa pilihan tidak akan jatuh kepada Soedirman. Dan memang, Pemerintahan yang pada waktu itu kekuasaan eksekutifnya berada di tangan PM Sjahrir menginginkan tokoh lain. Di antaranya Urip Sumohardjo, seorang tokoh militer didikan Belanda, tetapi berjiwa patriotik. Juga dikemukakan Sri Sultan Hamengku Buwono, yang pada waktu itu mendapat pangkat Jenderal Tituler. Dalam rapat para Panglima Divisi dan Komandan Resimen disebut juga nama-nama Sjahrir dan Amir Sjarifuddin, yang duduk sebagai Menteri Penerangan dalam Kabinet Sjahrir. Rupanya pola menempatkan pimpinan ketentaraan di bawah kekuasaan sipil-politis pada waktu itu hendak diterapkan oleh kaum politisi. Namun mayoritas hadirin memilih Soedirman. Suatu hal yang unik dalam revolusi kita. Panglima Besar yang pertama tidak diangkat oleh Pemerintah, melainkan dipilih secara “demokratis” oleh para panglima divisi dan komandan resimen. Itulah suasana revolusioner pada waktu itu. Itulah juga Zeit-geist-nya, atau “semangat zaman” revolusioner yang penuh dengan jiwa kerakyatan. Elan revolusioner yang meletus keluar ke atas permukaan masyarakat kita yang sedang bergolak mencerminkan diri dalam hasil pemilihan tersebut. Elan revolusioner tersebut mempercayakan kepemimpinan tentara kita kepada seorang pribadi Soedirman (Dr. H. Roeslan Abdulgani Peranan Panglima Besar Soedirman dalam Revolusi Indonesia, Restu Agung, Jakarta, 2004, hal.32-35).


Soedirman Memimpin Perang Gerilya
Perkiraan TNI bahwa Belanda sewaktu-waktu akan menyerang RI, ternyata tidak meleset. Belanda kembali melancarkan agresi militernya yang kedua. Pasukan Belanda menyerang ibukota RI dan bergerak ke seluruh wilayah Republik pada tanggal 19 Desember 1948. Pada jam-jam terakhir sebelum jatuhnya Yogyakarta, dalam keadaan sakit Soedirman menghadap Presiden dan melaporkan bahwa pasukan TNI sudah siap melakukan rencananya, termasuk mengungsikan para pimpinan nasional. Jawaban Presiden mengejutkan Soedirman. Soedirman dinasehati agar tetap tinggal di kota, untuk dirawat sakitnya. Panglima Besar Soedirman menjawab tawaran Presiden dengan kata-katanya,” Tempat soya yang terbaik adalah di tengah-tengah anak buah. Saya akan meneruskan perjuangan. Met of zonder pemerintah TNI akan berjuang terus”. Menghadapi Agresi Militer II Belanda, Jenderal Soedirman segera mengeluarkan Perintah Kilat No. I/PB/D/48. Isinya, pada tanggal 19 Desember 1948 Angkatan Perang Belanda telah menyerang kota Yogyakarta dan lapangan terbang Maguwo, Pemerintah Belanda telah membatalkan persetujuan genjatan senjata, semua Angkatan Perang menjalankan rencana untuk menghadapi serangan Belanda. Pada hari itu juga Jenderal Soedirman meninggalkan Yogya dan memimpin Perang Gerilya yang berlangsung kurang Iebih tujuh bulan lamanya. Dengan ditandu, ia melakukan perjalanan gerilya naik turun gunung, masuk hutan ke luar hutan, berpindah-pindah tempat. Tidak jarang Soedirman mengalami kekurangan makanan selama berhari-hari. Belum lagi penderitaannya karena pengejaran tentara Belanda yang ingin menangkapnya. Ketika Belanda menyerbu Yogyakarta, para pemimpin militer Belanda ternyata keliru memperhitungkan peranan Pemerintah Darurat RI (PDRI) dan Soedirman. Belanda hanya memperhitungkan Soekarno-Hatta dan para politisi sebagai center of gravity dalam perang. Belanda mengira bahwa dengan menduduki ibukota dan menangkap Soekarno-Hatta, Republik akan bisa dirubuhkan. Ternyata perkiraan Belanda keliru. Soekarno telah menyerahkan mandat pemerintahan kepada Menteri Kemakmuran Sjafruddin Prawiranegara yang sedang berada di Sumatra, sedangkan TNI tetap utuh. Akhirnya Belanda menyadari kekeliruannya dan kemudian melakukan pengejaran terhadap Soedirman.


Perintah Siasat no. 1/1948
Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer I (Juli 1947) dengan menyerbu wilayah RI, TNI menggelar pertahanan linier yang konvensional. Pertahanan TNI di beberapa daerah diterobos, pasukan TNI tidak bergerak mundur, melainkan bergerak ke samping, membentuk kantong-kantong perlawanan. Ketika Belanda menyatakan batas daerah pendudukannya dan daerah Republik dengan garis demarkasi, pasukan TNI menduduki kantong-kantong perlawanan di daerah yang diakui Belanda sebagai daerah pendudukannya. TNI yang berada di kantong-kantong perlawanan inilah yang dalam Persetujuan Renville dituntut oleh Belanda agar ditarik ke luar am-is demarkasi. Soedirman beserta stafnya pantang menyerah. Semua kekalahan dan kesalahan dikaji secara mendalam. Organisasi TNI yang menggelembung harus diperbaiki, TNI harus direorganisasi. Konsep total people’s defence sebagai kebijakan nasional harus segera dijabarkan. Para pemikir dalam Merkas Besar, seperti T.B. Simatupang dan A.H. Nasution akhirnya menemukan strategi perongrongan atau attrition strategy. Strategi ini untuk perang jangka panjang dijabarkan dalam organisasi dan sistem Wehrkreise. Wehrkreise artinya lingkungan pertahanan, atau pertahanan daerah. Sistem ini dipakai sejak dari pertahanan pulau sampai daerah-daerah. Masing-masing komandan diberi kebebasan seluas-luasnya untuk menggelar dan mengembangkan perlawanan. Wilayah Wehrkreise adalah satu karesidenan, yang didalamnya terhimpun kekuatan militer, politik, ekonomi, pendidikan, dan pemerintahan. Sistem Wehrkreise sama sekali meninggalkan sistem pertahanan linier. Sistem Wehrkreise ini kemudian disahkan penggunaannya dalam Surat Perintah Siasat No.1, yang ditandatangani oleh Panglima Besar Soedirman pada bulan Nopember 1948. Pengambilan keputusan politik yang dilakukan selama Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera mendapat reaksi dari Panglima Besar Soedirman. Ketika Pangsar Soedirman membaca surat telegram PDRI Sumatera, is menyatakan bertanggung jawab atas jalannya pertempuran dan menyatakan sikapnya yang tertuang dalam surat telegram yang isinya : Soal politik dan soul pertahanan tidak dapat dipisah-pisahkan karena pertahanan menjadi tulang punggung politik, dan jika ada perundingan tentang penghentian tembak menembak maka PDRI, Staf Angkatan Perang, dan Panglima Tertinggi harus berkumpul, sehingga perintah yang dikeluarkan menjadi kuat dan dapat ditaati. Setelah melakukan perjalanan panjang ke Iuar masuk hutan dan terhindar dari serangan Belanda, sejak tanggal 1 April 1949 Jenderal Soedirman menetap di Dukuh Sobo, desa Pakis kecamatan Nawangan, Pacitan, Jawa Timur. Di tempat ini keadaan Panglima Besar mulai agak teratur dan dapat mengadakan hubungan dengan Pejabat Pemerintah di Yogya melalui kurir dan di Sumatera melalui PAB di lereng Gunung Lawu. Selama bergerilya, Panglima Besar tetap mengeluarkan perintah-perintah harian, petunjuk, dan amanat, baik untuk TNI maupun rakyat. Strategi perongrongan yang dilancarkan TNI bersama rakyat berhasil menjemukan kemauan perang pasukan musuh. Apalagi sesudah dilancarkannya Serangan Umum ke Yogyakarta pada 1 Maret 1949 pimpinan Letnan Kolonel Soeharto, Komandan Wehrkreise III yang merupakan titik balik bagi kemenangan TNI. Belanda kemudian mengajak kembali berunding. Pada tanggal 7 Mei 1949, Roem-Royen Statement ditandatangani. Berdasarkan statement ini, akhir Juni 1949, Presiden, Wakil Presiden, dan pejabat Pemerintah RI yang ditawan Belanda di Pulau Bangka, dikembalikan ke Yogyakarta.


Soedirman Turun Ke Kota
Jenderal Soedirman diminta pulang kembali ke Yogya. ia dengan tegas menolak perundingan. Beberapa kali utusan Pemerintah dikirim ke Sobo, namun tidak berhasil melunakkan pendiriannya. Akhirnya Pemerintah meminta jasa baik Kolonel Gatot Subroto, Panglima Divisi II. Hubungan pribadi kedua tokoh ini cukup baik. Jenderal Soedirman sangat menghargainya sebagai saudara tua. Akhirnya tanggal 10 Juli 1949 Panglima Besar dan rombongan kembali ke Yogya. Di sepanjang jalan, rakyat berjejal-jejal menyambutnya. Mereka ingin melihat wajah Panglima Besarnya yang lebih suka memilih gerilya daripada beristirahat di tempat tidur. Kedatangan Panglima Besar disambut dengan parade militer, di Alun-alun Yogyakarta. Penampilannya yang pertama sesudah bergerilya diliputi suasana haru. Para perwira TNI yang selama bergerilya terkenal gagah berani, tak urung meneteskan air mata setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri keadaan fisik Panglima Besarnya yang pucat dan kurus. Rasa haru dan kagum bercampur menjadi satu. Selama bergerilya kesehatan Soedirman menurun, beberapa kali ia jatuh pingsan. Setibanya di Yogyakarta, kesehatan Jenderal Soedirman diperiksa kembali, ternyata paru-paru yang tinggal sebelah sudah terserang penyakit. Karena itu Panglima Besar Soedirman harus beristirahat di rumah sakit Panti Rapih. Semua perundingan yang memerlukan kehadiran Soedirman dilakukan di rumah sakit. Rasa tidak senang terhadap diplomasi yang ditempuh Pemerintah dalam menghadapi Belanda, masih membekas di hati Jenderal Soedirman. Pada tanggal 1 Agustus 1949, ia menulis surat kepada Presiden Soekarno, berisi permohonan untuk meletakkan jabatan sebagai Panglima Besar dan mengundurkan diri dari dinas ketentaraan. Namun surat tersebut tidak jadi disampaikan, karena akan menimbulkan perpecahan. Isi surat tersebut menjadi amat terkenal karena termuat kata-kata : “Bahwa satu-satunya hak milik Nasional Republik yang masih tetap utuh tidak berubah-rubah adalah hanya Angkatan Perang Republik Indonesia (Tentara Nasional Indonesia)”. Sementara itu kesehatan Panglima Besar semakin memburuk, sehingga is harus beristirahat di Pesanggrahan Militer, Magelang. Tanggal 6 Juli 1949 Presiden, Wakil Presiden dan pemimpin Indonesia lainnya kembali dari pengasingannya di Sumatera. Di Ibukota Yogyakarta mendapat sambutan yang meriah dari masyarakat. Kedatangan para pemimpin RI itu disusul oleh rombongan Pemerintah Darurat RI pimpinan Mr. Syafrudin. Kembali juga dari medan gerilya, Panglima Besar Soedirman beserta rombongan tanggal 10 Juli 1949 yang didampingi oleh Komandan Daerah Militer Yogya, Letnan Kolonel Soeharto. Saat-saat kembalinya dari medan gerilya. Panglima Besar Jenderal Soedirman ternyata tidak begitu senang dengan rencana kembali ke Ibukota Yogya saat itu, karena di daerah pertempuran di Jawa dan Sumatera masih banyak bertahan pasukan-pasukan gerilya TNI. Dan sementara berunding itu Belanda masih terus menerus mengadakan penyerangan (istilah mereka “pembersihan”). Soedirman sebagai Panglima Besar masih merasa berat hati meninggalkan para prajurit di medan gerilya. Di samping itu kecurigaan terhadap kejujuran lawan mengenai perundingan dan gencatan senjata, sesuai dengan pengalaman Soedirman selama beberapa tahun bertempur berunding dengan Belanda. Tetapi karena kepatuhannya yang Iuar biasa kepada Pimpinan Nasional dan adanya surat yang dikirimkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan sahabat karibnya Kolonel Gatot Subroto yang disertai penjelasan Letnan Kolonel Soeharto, maka Soedirman akhirnya mau turun ke kota, di mana ia langsung melapor kepada Presiden dan Wakil Presiden dalam suasana pertemuan yang sangat mengharukan. Setelah itu Soedirman menerima parade penghormatan dari prajurit-prajurit TNI pimpinan Letnan Kolonel Soeharto di Alun-alun Lor Yogya. Surat Kolonel Gatot Subroto kepada Pak Dirman sangat sederhana bunyinya namun cukup menggugah perasaan. Pak Gatot yang kenal betul dengan Soedirman beserta semua sifatnya menulis antara lain ”tidak asing lagi soya, tentu soya juga mempunyai pendirian begitu. Semua-semuanya Tuhan yang menentukan, tetapi sebagai manusia kita diharuskan ihtiar. Begitu juga dengan adikku (Soedirman-peny), karena kesehatannya terganggu harus ihtiar, mengaso sungguh-sungguh jangan menggalih (memikirkan-peny) apa-apa. Coat alles waaien. lni supaya jangan mati konyol, tetapi supaya cita-cita adik tercapai. Meskipun buahbuahnya kita tidak turut memetik, melihat pohonnya subur, kita merasa gembira dan mengucapkan terima kasih kepada yang Maha Kuasa. lni kali soya selaku saudara tua dari adik, minta ditaati “.


Soedirman Wafat
Tanggal 29 Januari 1950 Soedirman wafat, berita tentang wafatnya Soedirman, yang disiarkan berulang-ulang oleh Radio. Menyusul perintah Harlan Pejabat Kepala Staf Angkatan Perang RIS, Kolonel T.B. Simatupang yang ditujukan kepada seluruh tentara berisi Seluruh Angkatan Perang RIS diperintahkan berkabung selama tujuh hari dengan melaksanakan pengibaran benders Merah Putih setengah tiang pada masing-masing kesatuan dijalankan dengan penuh khidmat serta hormat, menjauhkan segala tindakan dan tingkah laku yang dapat mengganggu suasana berkabung. Pemerintah mengumumkan Hari Berkabung Nasional sehubungan dengan wafatnya Panglima Besar Soedirman, dan dalam pidatonya Perdana Menteri RIS Bung Hatta mengumumkan keputusan Pemerintah RIS untuk menaikkan pangkat Letnan Jenderal Soedirman secara anumerta menjadi Jenderal. Pukul 11.00 tanggal 30 Januari 1950, iring-iringan jenazah Panglima Besar Jenderal Soedirman perlahan-lahan meninggalkan kota Magelang menuju Yogya. Setelah disembahyangkan di Masjid Agung, jenazah dikebumikan dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta, disamping makam Letnal Jenderal TNI Oerip Soemoharjo.


Kepemimpinan Soedirman yang Sederhana
Pertama-tama yang memberikan kesan mendalam, terutama bagi orang-orang yang dekat hubungannya dengan beliau, adalah pribadi beliau yang sederhana. Kesederhanaan yang polos, memancar langsung dari jiwa beliau, kesederhanaan yang tak dibuat-buat balk dalam gaya hidup, sikap dan perilaku, yang mampu membangkitkan kepercayaan kepada anak buah bahwa diri mereka dipimpin secara jujur menuju cita-cita dan tujuan yang mulia, yaitu tercapainya kemerdekaan dan kesejahteraan bangsa. Kesederhanaan tersebut yang memancarkan pribadi manusia yang utuh dan tidak mementingkan diri sendiri, memancarkan pula keberanian, kejujuran dan solidaritas terhadap nasib sesamanya, telah melandasi kharisma beliau.


Semangat Nasionalisme yang Tinggi
Semangat nasionalisme yang tinggi merupakan hasil dari penghayatan suara hati nurani rakyat, kepekaan jiwa terhadap nasib rakyat Indonesia yang sekian lama menjadi rakyat jajahan, yang oleh penjajah diambil hak-haknya. Nasionalismenya bukan nasionalisme yang sempit, yaitu yang masih sarat dengan sentimen-sentimen primordial, seperti yang kita lihat pada berbagai jenis organisasi kelaskaran yang terbentuk pada awal kemerdekaan. Tetapi nasionalisme yang modern, seperti yang telah dirintis nilai-nilainya oleh para pemimpin pergerakan semenjak era Kebangkitan Nasional. Hal ini memperlihatkan tingginya pemahaman akan proses tersebut, yang berarti pula tingginya intelegensi. Inilah yang melandasi sikap sebagai pejuang, yang selalu mampu melakukan pengamatan secara cermat dan tepat terhadap perkembangan situasi politik yang silih berganti, yang menyebabkan selalu mampu untuk memilih dan menentukan sikap yang tepat di dalam setiap situasi yang kritis. Sebagai contoh adalah keputusan untuk segera mengorganisasikan laskar-laskar perjuangan rakyat dalam satu prototype tentara nasional, serta keputusan untuk menerima pengangkatan sebagai Panglima Besar APR! (Nopember 1945) di saat Republik Indonesia masih berusia kurang dari tiga bulan. Juga keputusan-keputusan berikutnya yang tidak pernah terombang-ambing oleh aneka pergolakan politik yang berusaha menarik pihak tentara untuk ikut serta dalam perjuangan politik.


Demokratis
Sikap dan perilaku beliau yang demokratis. Tercermin dengan tingginya pemahaman tentang nasionalisme Indonesia, yang tidak dapat dipisah-pisahkan dari perwujudan nilai-nilai demokrasi. Demokrasi merupakan bagian dari tuntutan hati nurani manusia. Soedirman, yang hati nuraninya sedemikian peka, ingin mewujudkan bisikan dari nurani itu. Di dalam kehidupan sehari-hari selalu menghargai pendapat dan hak-hak orang lain. Soedirman lahir dan tumbuh dalam suatu lingkungan masyarakat yang diliputi oleh suasana kerakyatan, kegotong royongan, kebersamaan dan kuatnya solidaritas kehidupan. Memahami manfaat keakraban hubungan dengan rakyat, selalu tampil sebagai figur yang memiliki kesadaran terhadap pentingnya arti kebersamaan dalam suatu perjuangan yang kekuatannya dilandasi oleh keberhasilan dalam menggalang kekuatan rakyat.


Pendirian yang Teguh
Pada situasi kritis dan sulit yang terjadi pada tanggal 19 Desember 1948, yaitu sewaktu ribuan tentara payung Belanda diterjunkan dan menyerang Yogyakarta secara mendadak, pars pemimpin Republik memutuskan untuk tetap tinggal di Yogyakarta, yang berarti mempunyai kemungkinan besar ditawan oleh tentara Belanda. Tetapi Soedirman membuat keputusan untuk tetap bersama prajurit dan rakyat melanjutkan perjuangan dengan melalui perang gerilya, walaupun kondisi fisik pada waktu itu dalam keadaan parah karena penyakit paru-paru yang berat. Betapa besarnya kerugian psikologis yang akan menimpa perjuangan rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan, apabila pada waktu itu yang menduduki jabatan Panglima Besar dan juga merupakan lambang dan keberadaan TNI, ikut-ikut menyerah dan ditawan oleh musuh. Keteguhan pendirian telah ditopang oleh rasa keagamaan yang sangat kuat, sehingga yang menimbulkan keyakinan bahwa kebenaran tidak akan pernah kalah, dan berjuang mempertahankan tanah air adalah bagian dari kebenaran itu, selanjutnya apabila ajal kemudian menjemput, maka kematian itu adalah bersifat syahid. Keteguhan itu juga ditopang oleh kayakinan terhadap kekuatan nilai-nilai demokrasi, yaitu bahwa rakyat adalah merupakan sumber kekuatan yang tidak akan pernah habis. Keyakinan itu secara terus menerus diusahakan untuk ditanamkan kepada anak buahnya, melalui petunjuk-petunjuk dan keteladanan tentang bagaimana nilai-nilai itu seharusnya diamalkan. Soedirman memang seorang pendidik, lulusan Sekolah Guru Muhammadiyah dan kemudian mengawali karirnya sebagai seorang guru dan baru kemudian terjun ke bidang ketentaraan. Darah, daging, dan jiwanya memang diliputi oleh semangat untuk mendidik dan membimbing orang-orang di sekitarnya menuju terwujudnya nilai-nilai yang bermanfaat bagi kehidupan manusia juga pengabdian kepada masyarakat secara tulus, juga merupakan seorang yang taat beragama, telah melengkapi keutuhan pribadinya sebagai pendidik yang utama. Keberhasilan mengembangkan gaya kepemimpinan yang mengkombinasi bakat sebagai guru, yang mampu berlaku sabar dan konsisten di dalam membimbing anak didik, serta sikap dasar keagamaan yang yakin kepada kebenaran terhadap perjuangan, tabah dan tawakal di dalam menghadapi kesulitan. Soedirman merupakan salah satu contoh terbaik dari prajurit yang mempunyai prinsip: “Satunya Kata Dengan Perbuatan”. Di dalam dirinya terkandung jiwa dan semangat keprajuritan yang patut diteladani. Di dalam seluruh perjalanan hidupnya, terukir nilai-nilai luhur kepemimpinan yang secara konsekuen dilaksanakan.

Sumber:
www.tirtaamijaya.wordpress.com